Universitas Bakrie Menyelenggarakan Seminar Dan Bedah Buku Bersama St. Sularto: “Gratitude Practices In Organizations”

1 min read

Sikap syukur erat sekali hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Banyak yang mengetahui manfaat dari rasa syukur, namun tidak sedikit pula diantaranya belum bersyukur.

Membahas rasa syukur, kali ini program studi Manajemen menghadirkan M. Taufiq Amir (Kaprodi Manajemen, Head of Center for Positive Leadership, Universitas Bakrie) dan St. Sularto (Redaktur Senior Asa Kompas, Penulis) sebagai dua pembicara dalam kegiatan seminar dan bedah buku “Gratitude Practices in Organizations”.

Rasa syukur yg dipaparkan oleh kedua pembicara memiliki dua konteks berbeda. Namun memiliki tali simpul perpaduan akan praktisi idealisme dan bisnis. Kedua konteks yang berbeda ini memiliki benang merah dalam memaknai rasa syukur bagi diterapkan dalam kehidupan.

Taufiq sebagai pembicara pertama memaparkan “Gratitude Practices in Business from the perspective of Positive Leadership”. Perasaan syukur dapat dijelaskan dalam berbagai konsep atas pengaruh emosi, sikap, watak, Norma, dan nilai moral dalam meyikapi suatu kejadian. Dengan adanya rasa syukur merupakan pilihan bersikap untuk orang yang bahagia. Karena rasa syukur yaitu sebuah respon buat mengurangi stress yg sedang dialami seseorang. Oleh karena itu, perspektif pemimpin yang positif mampu menularkan hal positif buat bisnis dan karyawannya.

Dilanjutkan Sularto sebagai pembicara kedua memaparkan “Buku Syukur Tiada akhir dan The Kompas Way: Membahas bagaimana pemilik Kompas Gramedia Group Jacob Oetomo mempraktekkan bersyukur dalam organisasi”. Melalui jejak langkah kehidupan Jacob Oetama selama 80 tahun di dunia pers tak lepas dari rasa syukur buat menyatukan semua pegawai kompas dalam satu ikatan yaitu kekuatan media yang sudah menciptakan kinerja positif selama perjalanan raksasa media kompas sampai eksis hingga ketika ini.

Melalui buku yang digarap Redaktur senior harian Kompas, merupakan satu cara buat semakin mengenal Jacob Oetama lebih dekat dengan membaca kisah sepak terjang hidupanya yg mempesona dan menginsiprasi dengan cara bersyukur. Beliau memilih menjadi jurnalis dan memikul tanggung jawab besar saat PK. Ojong dinyatakan meninggal. Sehingga beliau harus merangkap dua tugas buat menjadi jurnalis dan menangani urusan bisnis. Namun sampai ketika ini, Jacob lebih senang disebut wartawan daripada pengusaha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *